WISATA PANTAI RAKO
WISATA PANTAI RAKO:
Antara Mengais Rupiah dan Hembusan Eksotis
( Bagian 2 )
Embusan eksotisme Pantai Rako menggema,
tidak saja di dalam negeri tetapi dunia
internasional walau belum seberapa. Gema yang belum terdengar pada semua
pencinta kemolekan bahari karena faktor pengeloalaan.Ini tentu pula soal
kemampuan Sumber Daya Manusia ( SDM ) pengelolah obyek wisata pantai di Desa -
Hewa, Wulanggitang-Flores Timur. Kelompok Sadar Wisata ( Pokdaris ), senbuah
kelompok kecil dengan segala keterbatasan , sudah saatnya mendapatkan asupan
pengatahuan melalui pelatihan-pelatihan pun kegiatan magang dari pemerintah
Kabupaten Flores Timur melalui dinas terkait. Dengan banyak hal yang diperoleh,
sekurang-kurangnya pola pikir tetang pengelolaan kepariwisataaan akan menjadi
bekal dasar untuk mengeksplor pariwisata Pantai Rako.
Pantai Rako termasuk salah
satu pantai yang dari Sabang sampai Marauke yang patut dikemas. Soal keindahan
atau bahkan hempasan gelombang bergulung-gulung yang menjadi arena peselnacar. Bukan
tidak mungkin kesan para peselancar, atau bahkan bagi wisatawan yang perna bertandang ke sana telah
menorehkannya. Keindahan alam pantai, ketenangan batin yang direguk kalam
hembusan angin bantai membuai hingga hati terpikat, kesahajaan warga desa yang
meyambutnya dengan tarian diantaranya yang telah menggugah. Atau mungkin pula
karena sajian pangan lokal yang tak terlupakan setelah dinikmati wisatawan
mancangera. Kemolekan gadis-gadis desa dalam tarian daerah saat penyambutan
tentu memberi kesan mendalam. Beberapa kesan ini, menjadi modal dasar. Ibarat berinvestasi,
maka modal dasar ini menjadi hal yang sangat penting. Lebih
dari itu, pasir putih bak salju dengan air lautnya yang jernih membuat
pantai di wilayah selatan Pulau Flores yang berbatasan langsung dengan
Kabupaten Sikka ini ini menjadi daya tarik tersendiri tak terbanding.
Membedah
Pengelolaan
Walaupun
alam warisan leluhur telah memesona, namun sayangnya pengelolaan pantai di
negara tercinta ini berbeda satu daerah ke daerah lainnya di Indonesia. Hal ini
dipengaruhi beberapa faktor antara lain kebijakan pada tataran daerah,
baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, berbeda satu dengan lainnya,
ketersediaan anggaran, sumber daya manusia serta sarana dan prasarana pendukung
yang belum memadai.
Kunjungan
perdana Wisatawan Mancanegara pada
Agustus 2019 lalu telah memberikan angin segar bagi pengelola pariwisata
Pantai Rako.Kunjungan perdana Wisman dari Italia dan Amerika setidaknya telah
memberi dampak pagi warga di Desa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten
Sikka ini. Ketua Pokdarwis Pantai Rako, Kristoforus Uran turut menilai soal dampak
kunjungan wisatawan itu. Dari aspek ekonomi, warga yang berjualan cukup meraup
keuntungan walau belum semua. Dalam beberapa kunjungan, ia selalu berkoordinasi
dengan Dinas Pariwista dan Kebudayaan Flores Timur, pemerintah Desa Hewa dan
pengusaha yang berkecimpung di bidang kepariwisataan. Namun demikian, nait baik
saja tentu bukan satu-satunya cara mengembangkan Pariwisata Pantai rako.
Karena
itu butuh komitmen yang kuat baik pemerintah maupun masyarakat sehingga
pengelolaan Pantai Rako benar-benar optimal.Belajar mengolah pantai sebenarnya
tidak terlalu susah. Selain komitmen dan kemauan tentunya juga perlu belajar ke
daerah-daerah yang sukses dalam pengelolaan obyek wisata pantai.
Belajar dari
Bali
Untuk
Indonesia, Provinsi Bali sudah pasti menjadi rujukan utama. Provinsi yang
memiliki jumlah penduduk 4, 2 juta jiwa tersebut mengandalkan sektor pariwisata
sebagai tulang punggung utama dalam mendongkrak ekonomi daerah dan meningkatkan
kesejahteraan masyarakat.Laporan Badan Pusat Statistik Provinsi Bali per
Desember 2018 menenggarai kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Provinsi
Bali tercatat mencapai 498.819 kunjungan, dengan wisman yang datang
melalui bandara sebanyak 495.641 kunjungan, dan yang melalui pelabuhan laut
sebesar 3.178 kunjungan.General Manager PT. Angkasa Pura I (Persero)
Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Yanus Suprayogi menjelaskan
jumlah kunjungan wisatawan ke Bali tercatat 6.127.437 turis asing mengunjungi
Bali selama periode pencatatan Januari sampai Desember 2018. Menurutnya, data
tersebut meningkatkan 10, 61% dari tahun sebelumnya dimana pada tahun 2017
kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 5.539.791 wisatawan.Data ini
sebenarnya mau mengatakan betapa dahsyatnya minat wisatawan untuk mengunjungi
Bali. Dan data ini tentu tidak statis, tetapi pasti akan terus meningkat searah
dengan semakin mengingatnya minat wisatawan untuk mengunjungi Bali.
Membandingkan
jumlah kunjungan Ke Bali dengan Pantai Rako
akan terlihat jarak, bak langit dan bumi. Tapi menjadi perhatian yakni
bagaimana mengelolah Pantai Rako yang oleh Wage Adit dari PSOI (Persatuan
Selancar Ombak Indonesia) sebagai Kuta-nya Pulau Flores.Hal lain yang juga
menjadi titik sentuh, yakni bukan soal pantai berpasir putih dengan gelombang
laut yang sangat tepat untuk berselnacar, tetapi soal kelolanya yang boleh
dikata benar-benar profesional dan memenuhi standar internasional.
Beberapa hal
yang perlu ditiru untuk meningkatkan
kunjungan wisatawan, jika kita coba menatap pengelolaannya. Secara
administrasi, Pantai Kuta berada di Kabupaten Badung. Dalam pengelolaannya,
pemerintah setempat menyerahkan kepada masyarakat adat atau masyarakat setempat
yaitu banjar (desa adat) Kuta. Namun sejumlah fasilitas pokok didalammnya
dibangun pemerintah daerah. Semua fasilitas di Pantai Kuta dibangun pemerintah
daerah, hanya saja penggunaan dan pemeliharaannya diserahkan kepada masyarakat
lokal.
Bagaimana dengan Pantai Rako? Ketua
Pokdaris, Kristoforus Uran, hari –hari ini telah menggalakan kerjasama dengan
Pemerintah Kabupaten Flores Timur telah merintis pembangunan Homestay,
sedangkan kelompok sadar wisata yang dipimpinnya telah melakukan pongeboran
air. Dan pada tahun 2020, demikian Rus,biasa disapa, Pemerrintah Kabupaten
Flores Timur akan membangun jalan berhotmix sepanjang 1-2 kilometer dari Desa
Hewa menuju Pantai Rako.
Sehubungan
dengan fasilitas , banyak hal pula yang semestinya dipersiapkan. Hal pertama
adalah kantor informasi. Dengan mempertimbangkan ketersediaan lahan, dapat pula
dibangun wahana bermain, kamar mandi dan wc atau MCK (Mandi Cuci Kakus), areal
parkir, serta sejumlah fasilitas lainnya yang memanjakan pengunjung. Dan untuk
hal-hal itu, membutuhkan perencanaan yang komprehensif, agar tidak terjadi
kesenjangan dalam berbagai aspek, juga antara pemangku kepentingan. Hal-ini
harus dipikirkan secara matang agar pembangunan kepariwistaan di Pantai Rako
sangat menjadi milik bersama seluruh warga di Desa Hewa, selanjutnya semua
merasa memiliki Pantai Rako sebagai
wisata andalan.
Dalam
hal ketersediaan jaringan telekomuniskasi, demikian Rus Uran, hal tersebut
telah dikomunikasikan dengan pemerintah Kabupaten Flores Timur. Akan dibangun
sarana Wifi/internet di Pantai Rako . Hal ini untuk mempermudah para wisatawan
dalam berkomunikasi.
Beberapa
kali kunjungan wisatawan mancanegara dan juga kunjungan warga di Kabupaten
Flores Timur dan juga lainnnya pada hari minggu dan pada hari libur telah
menyiratkan persoalan baru soal sampah. Belum diperhatikannya tentang
kebersihan daerah pantai agar tetap memaparkan keindahan. Keberadaan sampah ini
juga mempengaruhi keindahan obyek wisata menarik di, Pantai rako Agar terhindar
dari ulah segelintir orang sangat dibutuhkan kemampuan dalam pengelolaannya.
Bahwa kemudian akan dipikirkan tentang petugas sampah, maka itu pula yang perlu
dipikir bersama entah dalam kelompok kecil atau melalui pemerintah desa dan
pemerintah kabupaten melalui dinas terkait.
Atau dapat pula
tugas menjaga kebersihan menjadi tanggung jawab bagi para penjual yang mengais
rejeki di sepanjang pantai Rako. Hal ini pun menjadi catatan lain dalam pengelolaan
sampah di tempat wisata PantaiRrako.
Faktor
keamanan dan kenyamanan wisatawan menjadi salah satu point penting dalam
pengelolaan obyek wisata pantai. Sehubungan dengan kegiatan berselancar pada
pantai dengan gelombang yang cukup besar, maka petugas keamanan menjadi bagian lain yang
harus dipikirkan. Petugas-petugas ini selalu siaga dan mengawasi aktivitas
pengunjung untuk meminimalisir kecelakaan saat berenang atau surfing (selancar)
di sepanjang Pantai Rako. Pada musim ombak juga dipasang rambu-rambu tertentu
sebagai peringatan bagi wisatawan. Rambu-rambu itu dipasang di bibir pantai.
Mendandani ( baca: mempersipakan)
Pantai Rako menjadi tempat yang seidentik dengan Pantai Kuta di Pulau Bali atau Pantai Nemberala di Pulau
Rote, tentu membutuhkan waktu yang lama. Namun demikian, gagasan-gagasan untuk
mempercantik Pantai Rako menjadi pantai wisata harus dibumikan. Dibiacarakan
dalam diskusi-dikusi, entah di tingkat RT, kelurahan dan desa atau pada
ruang-ruang publik lainnya. Semua pemangku kepentingan khususnya di desa Hewa
harus memulainya, karena perjalanan seribu langkah dimulai langkah pertama.
v
Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan kosntruktif!