JALAN SEMPIT WAG MENULIS
JALAN SEMPIT WAG
MENULIS
( Oleh. Y. Joni
Liwu, S.Pd
Gerimis hingga
malam sejak senja sore enggan berhenti.
Aku pun enggan mengatakan ini kepada teman di WAG ini, apalagi harus
berpamitan. Saya sangat mengalami
jalinan pertemanan selama ini, yang menurutku seperti sahabat rasa saudara.
Begitu ikhlasnya bu Sulistiani, dkk membagi ilmu sedang mereka harus berbagi
waktu untuk urusan-urusan yang lebih penting.
Sahabat-sahabaku,
kita telah merajut persahabatan ini sejauh ini. Dengan rendah hati, saya
menyampaikan terima kasih kepada ibunda Sulistiani yang telah berkenan memberi
kesempatan kepada saya untuk belajar bersama di WAG ini. Terima kasih juga
kepada teman-teman sekalian para guru penulis yang telah berbagi ilmu.
Akhirnya, saya
mohon undur diri dari WAG ini sembari
memohon berkat Tuhan atas setiap karya dan usaha teman-teman.
Di samping sutradara ada aktor,
Dalam taman mereka bersua.
Kutitipkan salam dari Kupang Timor,
Salam literasi untukmu semua.
Untaian kalimat yang diakhiri pantun di atas adalah ungkapan
hati seseorang dalam whatshApp group menulis. Rupanya seseorang yang menulis
itu hendak berpamitan setelah bergabung bersama dalam grup tersebut. Bahwa apa
penyebab pengunduran diri itu menjadi persoalan tersendiri. Tetapi bahwa
seseorang itu telah tergabung dalam sebuah group belajar menulis bersama yang
menarik.
Di media sosial whatshApp akhir-akhir ini muncul
banyak pegiat literasi yang menyemarakan gerakan literasi dengan caranya
masing-masing. Salah satu di antaranya yakni dengan memrakarsai kegiatan menulis bersama.
Wujudnya pun berjenis-jenis. Menulis fiksi atau nonfikisi. Melalui pelatihan menulis yang tersaji secara daring,
semua karya itu kemudian dibukukan. Al hasil buku antologi pun dihasilkan
bersama. Banyak pula penulis yang rata-rata guru yang membukukan
karya-karyanya. Bukan tidak mungkin karya-karya mereka itu menghasilkan koin juga poin.
Kesempatan belajar bersama seperti di atas sangat mungkin terealisasi karena waktu yang
cukup bagi guru di masa pandemi covid 19. Melalui berbagai media sosial, mereka
memperoleh ilmu secara cuma- cuma. Selanjutnya berbekal latihan secara
bertahap, kemampuan menulis diasah. Mulai dari ilmu menulis hingga belajar
tentang kaidah bahasa Indonesia semisal Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia ( PUEBI
).
Beberapa guru yang semula “sangat tidak bisa
menulis” pada akhirnya bisa menulis. Para penulis buku yang semula belum
sepenuhnya memahami kaidah penulisan menurut PUEBI akahir banyak memahami
kaidah bahasa Indonesia. Secara tidak langsung peserta pealtihan belajar
mandiri tetang bahasa Indonesia. Sesuatu yang selama ini terabaikan.
Hasil belajar menulis bersama berwujud buku
antologi. Peserta yang rata-rata guru itu tentu dengan bangga memiliki buku
antologi ber-ISBN. Sesuatu yang tidak terbayangkan ssebelumnya. Betapa tidak,
beberapa di antaranya bahkan mengatakan
bahwa hal tersebut sungguh merupakan sebuah kebanggaan karena sebelumnya
memiliki buku ber- ISBN hanya sebuah harapan bahkan mimpi. Menjadi sebuah
lompatan, karena memang sebelumnya sangat sulit untuk mulai menulis. Namun
dengan buku antologi, itu sebuah bukti bahwa siapapun dapat menulis.
Kasak-Kusuk
tentang Menulis
“Menuliskan sebuah paragraf saja sangat sulit,”
tulis beberapa orang guru dalam sebuah WAG menulis.
Sesuatu yang membebani mereka yakni bahwa ilmu
paragraf dengan ide pokok, ide pendukung, kalimat utama, juga kalimat penjelas,
sangat menjadi beban tersendiri ketika hendak menulis sebuah paragraf.
Syukurlah para pemateri dalam kegiatan menulis bersama sangat sabar menuntun hingga akhirnya bisa menulis.
Semisal mengarahkan peserta agar menulis saja sesuatu yang dialami,
terpikirkan, dirasakan, atau sangat menyentuh perasaannya. Bahwa tulisan itu
kemudian berbentuk paragraf atau kalimat-kalimat pendek itu urusan setelah itu. Tetapi bahwa
menuliskan saja sesuatu yang sedang dipikirkan atau membekas di pikiran itu tentu
menjadi sebuah langkah awal menggerakan seseorang agar mulai menulis.
Hingga di titik ini mungkinkah para guru telah
mengambil bagian dalam gerakan literasi nasonal? Sebagaimana kita ketahui bahwa
Gerakan Literasi Nasional (GLN) menjadi salah satu program prioritas
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Gerakan ini diharapkan dapat memacu peningkatan literasi
masyarakat. Program ini mewujud dalam Gerakan Literasi Sekolah (GLS), Gerakan
Literasi Bangsa, serta berbagai program lainnya untuk mendorong aktifnya
gerakan literasi baik di sekolah maupun di masyara
Setidaknya para pemrakarsa kegiatan menulisdi WAG
merealisasikan literasi digital. Gerakan literasi digital yang dilakukan pada
masa pandemi covid-19 adalah gerakan literasi digital keluarga dan gerakan
literasi digital masyarakat. Gerakan literasi tersebut bertujuan untuk
meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan positif dalam menggunakan
media digital dalam kehidupan sehari-hari. Literasi digital dimaksukan pula merupakan
kecakapan (life skills) yang tidak hanya melibatkan kemampuan menggunakan
perangkat teknologi, informasi, dan komunikasi, tetapi juga kemampuan
bersosialisasi, kemampuan dalam pembelajaran, dan memiliki sikap, berpikir
kritis, kreatif, serta inspiratif sebagai kompetensi digital.
Jika mencermati hal tersebut, maka sebenarnnya
siapan pun dapat berpartisipasi tanpa harus digerakan. Guru-guru dapat
memanfaatkan kesempatan-kesempatan emas yang tersaji di beberapa group menulis
di media sosial untuk mengasah kemampuan menulis. Setidaknya bisa belajar
bersama tanpa harus bersusah payah mencari guru menulis, bahkan dengan ongkos yang
cukup. Di dalam WAG misalnya, setiap peserta dapat saling berbagi ilmu secara
cuma- Cuma.
Belajar menulis bersama melalui WAG ataupun media
sosial lain adalah salah satu dari sekian banyak cara agar seseorang bisa
menulis. Bukankah karya seseorang akan abadi dengan menulis? Sebuah pengalaman
menarik bahwa hampir sebagian besar budaya-budaya daerah yang kaya nila
tergerus hanya karena diwariskan secara lisan. Sastra daerah dengan berbagai
bentuk terlupakan dari generasi yang satu ke generasi yang lain.kalau pun masih
diingat atau masih ada itu karena warisan budaya itu telah dubukukan melalui
sebuah penelitian.
Ketahuilah dengan menulis seseorang dapat pula
mengaktifkan otak untuk berpikir. Dengan demikian, ia tentu saja dapat
meningkatkan kreativitas. Waktu yang tersaji di masa pembelajaran Daring dapat
pula menjadi peluang untuk meningkatkan kreativitas tersebut. Selain sebagai
wadah menuangkan emosi dan perasaan, sebenarnya dengan menulis kehidupan
seseorang menjadi lebih terorganisir. Sesuatu yang secara tidak sadar telah
dilakukan seorang penulis dalam mengorganisir tulisannya.
Apapun yang dilakukan para guru menulis atau pmateri
dalam sebuah WAG menulis akan menjadi ispan jempol belaka jika peserta
pelatihan tidak memiliki kemauan. Guru
atau peserta penulis setidaknya memiliki kemauan, ketekunan, dan konsisten.
Jika disederhanakan, demikian seorang pemateri dalam sebuah WAG, dalam menulis
bukan soal siapa yang ahli tetapi siapa yang mau.
Akhirnya jangan takut untuk gagal, karena jika tidak
mulai melangkah, kegagalan itu tetap berada di tempat yang sama di tahun yang
akan datang.
Penulis, Guru di SMP Negeri 13 Kota Kupang

Komentar
Posting Komentar
Silakan komentar secara bijak dan kosntruktif!