KACA MATA UANG

 

KACA MATA UANG



Aktivitas siang kemarin di sekolah terhenti lantaran tamu sedang menanti di rumah.

"Bapa, tamu ini hanya hendak bertemu bapak dan mama," demikian putriku melalui VC. Ia pun melanjutkan jika tamu itu seorang perempuan.

Akupun langsung berkemas. Seorang tamu perempuan? Hati mengumbar tanya seribu satu. Apakah geranganan urusannya? Bagiku tentu sangatlah penting karena aku yang harus menemuinya.

 

Semula aku berpikir jika tamu itu adalah seorang sahabat guru yang akan memberikan sebuah buku antologi puisi karya rekan guru di kabupten tetangga. Saya membuat ulasan sebagai endors dari bukunya tersebut. Sebagai ungkapan terima kasih, ia mengrimkan buku itu kepada saya melalui editornya yang tinggal sekota denganku.Ternyata dugaanku itu salah.

"Ibu itu tidak berjilbab ," jawab anakku dalam VC saat saya memastikan sahabat guruku itu berjilbab.

 

Saya memutuskan secepatnya menyambangi tamu itu di rumah. Hal itu harus kulakukan agar tidak pula membebani perasaan isteriku dengan rasa penasaran karena tamu itu belum mengungkapkan isi hatinya walau mereka telah bersama belasan menit.

Aku tiba di rumah. Masker yang digunakannya sempat membingungkan saya. Saya baru mengetahuinya sebagai seorang rekan guru setelah ia membuka maskernya.

Ia pun menuturkan keluhnya soal ketiadaan biaya transportasi ke kampung halaman saat ini karena ibunya sedang sekarat.

 

Karena ke pulau seberang tentu ia membutuhkan ongkos pesawat.

Hati terenyuh karena ia menyampaikan dengan mata berlinang.

"Entah ke mana saya harus mengaduh," demikian sahabat guru yang masih semarga ini.

Saya hanya mengelus dada, bukan cuma karena ketiadaan uang tetapi juga keprihatinan terhadap kesedihan yang dialaminya.

 

Jika dia sedih karena ibunya sekarat, saya prihatin karena ikut merasakan kesedihannya juga karena tidak bisa menalanginya.

 

Kami menyarankannya agar ia bisa meminjam ongkos pesawat itu pada orang lain.

Sore ini menyisahkan guratan piluh karena tak berdaya. Hati tak sanggup menahan perih tetapi sejauh itu pula hanya bisa bergumamam," Apa daya tangan tak sampai."

Tentang uang, saya teringat soal bagaimana mengungkap tabir kehidupan seseorang dengan uang sebagaimna tayangan pada gambar/ foto di status ini.

 

Mau tahu akhlak seseorang?

Cobalah berurusan uang dengannya.

 

Mau tahu kejujurannya?

Coba percayakan dia mengelolah keuangan.

 

Mau tepati janjinya?

Coba pinjami dia uang.

 

Mau tahu kasing sayangnya?

Coba minta bantuan uang padanya.

 

Mau tahu harga dirinya?

Coba sering makan bersamanya,lihatlah inisatifnya  untuk membayar.

 

Mau tahu kezalimannya?

Coba bekerja padanya dan lihat bagaimana caranya memberi upah.

 

Percayalah, orang yang terlihat baik akan ketahuan kepalsuannya saat berurusan dengan uang.

***

Komentar